Transcription

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001DIGITAL STORYTELLING PADA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASARSafitri Yosita RatriPGSD FIP, Universitas Negeri YogyakartaKampung Karang Malang, Jl. Colombo 1, Yogyakarta [email protected] use of innovative learning media is still especially in elementaryschool (SD). This will address the problem in Social Science (IPS) which untilnow still assumed as a tedious lesson and demands memorization, as well asless material in accordance with the development of society again. Thesolution is to develop Digital Storytelling or known in the Indonesian languageas a digital fairy tale.The use of Digital Storytelling for IPS in elementary school, which isone of the objectives is to develop affective aspects of students, will give themeaning that IPS as a subject that is able to improve students' feelings aboutacceptance, response, assessment, and character development. For students,Digital Storytelling will attract attention so that will be more motivated tolearn IPS. Students need to be trained as early as possible in the future to beable to have a high understanding and empathy in facing social problems intheir environment.Keywords: Digital Storytelling, Social Science, Learning MediaAbstrakPenggunaan media pembelajaran yang inovatif masih tetap berlangsungdan perlu dikembangkan pada Sekolah Dasar (SD). Salah satunya yangdilakukan pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang sampai saatini masih diasumsikan sebagai pelajaran yang membosankan dan menuntuthafalan, serta materi yang kurang sesuai dengan perkembangan masyarakatlagi. Adapun solusi dari permasalahan tersebut adalah denganmengembangkan Digital Storytelling atau yang dikenal dalam bahasaIndonesia sebagai dongeng digital.Penggunaan Digital Storytelling bagi pembelajaran IPS, yang salah satutujuannya adalah mengembangkan aspek afektif siswa, pada SD akanmemberikan makna bahwa IPS sebagai mata pelajaran yang mampu untukmeningkatkan perasaan siswa diantaranya tentang penerimaan, respon,penilaian, dan pembangunan karakter. Bagi siswa, melalui pembelajaran IPSini, Digital Storytelling akan menarik perhatian sehingga akan lebihtermotivasi untuk belajar IPS. Siswa perlu dilatih sedini mungkin sebagaipersiapan di masa mendatang supaya mampu memiliki pemahaman dan empatiyang tinggi dalam menghadapi masalah sosial di lingkungannya.Kata Kunci: Digital Storytelling, IPS, Media Pembelajaran 2018 PGSD STKIP AL HIKMAH1

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001p-ISSN 2654-3001e-ISSN 1234-5678tersebut, maka kurikulum Pendidikan IPSharus memuat bahan pelajaran yang sesuaidengan tujuan institusional dan kanbahanyangmemungkinkan siswa untuk berfikir kritis.Dengan demikian, bahwa kurikulumpendidikan IPS harus memperhatikanpengembangan akal siswa.Minat yang rendah akan materi IPSmenyebabkan hasil belajar siswa padaumumnya rendah, di bawah mata pelajaranlannya. Pernyataan ini didukung olehkenyataan di lapangan, saat ada pelatihanPLPG pada tahun 2008 dengan para pesertaguru-guru sekolah dasar yang tidak lolospenilaian portofolio. Pada saat materi IPS,para guru hampir semua menyatakan setujusaat di sampaikan bahwa para guru IPS saatmengajar hanya mengandalkan referensisatu buku pegangan dan bersifat textbook.Para guru juga mengakui jika kurangmengoptimalkan sumber belajar IPS yangada di lingkungan masyarakat siswa.Sebagian besar mereka juga mengakuibahwa para siswa terkesan jenuh, tidak adamotivasi mengikuti pelajaran IPS dan jugamengakui bahwa rata-rata nilai matapelajaran IPS selalu di bawah nilai matapelajaran yang lain.Pada sisi yang lain, saat initeknologiinformasimelaluimediateknologi berbasis komputer sudah menjadikebutuhan hidup. Tidak terkecuali dalambidang pendidikan, teknologi informasiberbasiskomputersudahmenjadikebutuhan di kantor-kantor dan di sekolahsekolah. Jadi para guru tidak bolehketinggalandenganperkembanganteknologi informasi berbasis komputertersebut.PENDAHULUANMenurut Bloom (1976), hasilbelajar mencakup tiga aspek yaitu: prestasibelajar (kognitif), kecepatan belajar(psikomotorik), danhasil afektif.Kurikulum KTSP di Indonesia mengambilpendapat Bloom ini sehingga guru harusdapat menilai ketiga aspek ini dengan baik.Karakteristik manusia meliputi cara yangtipikal dari berpikir (kognitif), berbuat(psikomotorik), dan perasaan (afektif).Aspek afektif yang dimaksud Andersenmencakup watak perilaku seperti perasaan,minat, sikap, emosi, atau nilai. Namun padakenyataanya, masih terdapat beberapapermasalahan pembelajaran IPS di SD,salah satunya adalah persepsi IPS sebagaipelajaran yang tidak terlalu penting, ataukadang disepelekan karena terlalu mudah,menggiring pembelajaran IPS hanyamenekankan aspek kognitif. Aspek afektifdan psikomotorik jarang dibuat parametersecara lebih tegas.Tujuan pendidikan IPS bagipendidik adalah mampu mempersiapkan,membina, dan membentuk kemampuanpeserta didik yang menguasai pengetahuan,sikap, nilai, dan kecakapan dasar yangdiperlukan bagi kehidupan di masyarat(puskurbuk.kemdikbud.go.id, 2016). Untukmenunjang tercapainya tujuan IPS tersebutharus didukung oleh iklim pembelajaranyang kondusif sehingga kecakapankecakapan tersebut terkuasai. PendidikanIPS menurut NCCS mempunyai tujuaninformasi dan pengetahuan (knowledge andinformation), nilai dan tingkah laku(attitude and values), dan tujuanketrampilan (skill): sosial, bekerja danbelajar, kerja kelompok, dan ketrampilanintelektual (Jarolimek, 1986). Berdasarkanpengertian dan tujuan pendidikan IPS2

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001Akan banyak sekali keuntungannyaapabila para guru dapat menguasaiteknologi informasi komputer yang dapatdikembangkan menjadi media ini. Apabilaguru dapat mengoptimalkannya dalampembelajaran IPS dimungkinkan para siswatidak jenuh lagi mengikuti pelajaran. Haltersebut dimungkinkan karena denganmedia komputer, guru dapat menjelaskanmateri IPS tidak berdasarkan buku lagi.Siswadapatdiajakmemahamipermasalahan yang ada di masyarakatsecara kontekstual. Harapannya denganmemberikan penjelasan secara kontekstualakan lebih mudah siswa menangkap konsepIPS yang sedang dipelajari. Buku pegangantetap masih menjadi referensi utama, tetapipenjelasan konsep IPS yang ada pada bukupegangan siswa tersebut akan lebih mudahdifahami siswa dan akan lebih menariksiswa untuk belajar jika dijelaskan melaluisumber belajar yang ada di masyarakat.Sumber belajar di masyarakat berupaperistiwa atau fakta-fakta sosial atau datadata yang ada di lingkungan siswa akanmemungkinkan siswa termotivasi untukbelajar.memudahkan siswa dalam memahamiperistiwa-peristiwa sosial atau gejala-gejalasosial yang berkembang. Diharapkan siswadapat lebih mudah menjawab permasalahansosialsecaraafektifdalamikutmemecahkan permasalahan sosial yangdibahas dalam pelajaran. Siswa tidak lagiharus menghafal pelajaran secara textbooktetapi lebih ditekankan pada bagaimanamenyelesaikan persoalan sosial dengantindakan yang lebih konkrit.Pengamatan terhadap pembelajaranjuga telah dilakukan pada dua kelas tinggidi suatu Sekolah Dasar. Hasil pengamatanmenunjukkan adanya kesamaan antaramasalah-masalah yang terjadi dalam matapelajaran IPS. Dibandingkan dengan matapelajaran lain, siswa masih merasa bosan,jenuh, dan tidak tertarik dengan matapelajaran IPS. Kendala dalam pembelajaranIPS muncul dari berbagai faktor. Dariamatan pada peneliti, terlihat guru yanglebih senang menggunakan metodeceramah dan berdasarkan buku bacaandalam menerangkan teori. Guru belummengoptimalkan sumber belajar IPS yangada di masyarakat lingkungan siswa. Paraguru IPS di sekolah dasar juga masihterkesan textbook. Dalam memberikanpelajaran IPS kepada siswa hanyabersumber pada buku pegangan siswa.Buku pegangan menjadi satu-satunyasumber belajar siswa saat ak pada peningkatan aspek kognitifdibandingkan dengan aspek psikomotordan afektif. Dilain pihak, pembelajaran IPSsemestinyamampumenciptakanpengembangan siswa yang berkenaandengan aspek perasaan. Hal ini pentingdilatih sedini mungkin pada siswa SD sayarakatmenghadapi segala permasalahan sosialyang terjadi.KAJIAN PUSTAKAMedia Digital Bagi GuruUntukmencapaitujuanpembelajaran yang dapat mengoptimalkanteknologi informasi berbasis komputer guruperlu menguasainya. Bukan tidak mungkinpada sekolah-sekolah tertentu parasiswanya sudah banyak yang familierdengan teknologi informasi sementara adabanyak guru malah belum memanfaatkanteknologi informasi ini. Akan dapatmerubah kejenuhan belajar siswa danmemudahkan tercapainya tujuan dalammempelajari IPS jika guru dapatmemanfaatkan teknologi informasi berbasiskomputer dalam pembelajaran di kelas.Penjelasan guru dengan teknologiinformasiberbasiskomputerakan3

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001Permasalahan-permasalahan dalampembelaaran IPS tersebut dapat diatasidengan penggunaan teknologi berbasiskomputer yaitu Digital i Digital Storytelling yangakan memberikan suasana pembelajaranyang menarik, inovatif, menyenangkan danmemudahkan pemahaman materi-materiIPS.pembuatannya lebih mudah. Gaya berceritaDigital Storytelling dapat berupa ceritayang lucu, sedih, informatif, menghibur,dan lain-lain. Selain itu, DigitalStorytelling tidak harus rumit. Justrubiasanya yang sederhana lebih bagus.Prinsipnya adalah pesan yang ingindisampaikan bisa tercapai secara tepatguna. Menurut penelitian yang dilakukanoleh Gary Small (2008) dalam bukunyayang berjudul IBrain, ia mengatakan bahwainformasi yang dibaca melalui screen akanlebih bertahan lama dalam memori. Selainitu juga, dengan membaca melalui screenakan memperbanyak proses penyambunganneuron-neuron di otak.Digital Storytelling merupakansuatu strategi penggunaan program aplikasikomputer untuk menceritakan suatu cerita.Seperti halnya storytelling tradisional,maka sebagian besar digital storymenceritakan suatu topik dilihat dari sudutpandang tertentu. Sesuai dengan namanya,maka digital story berisi gabungan antaragambar, teks, suara (narasi dan lagu) danWeb publishing. Tujuan utama dari embuatuntukmengekspresikan kekuatan emosinya.Menurut buku “Dongeng o.idmenjelaskanbahwa dongeng dijital adalah ceritaseseorang tentang kehidupan dirinya, oranglain, keluarga dan teman-temannya,masyarakat, yang ditulis dan dituturkanoleh yang bersangkutan berdasarkanpengalaman atau pengamatannya. DigitalStorytelling merupakan film yang bersifatpersonal dan berdurasi pendek. Media inimenggunakan gambar- gambar dan narasi(yang dibacakan oleh narator atau penuturcerita) untuk menyampaikan sebuah kisahyang sederhana. Umumnya, DigitalStorytelling berdurasi 2 - 3 menit danmenggunakan sekitar 30 gambar atau fotoDigital StorytellingDigital Storytelling merupakancerita yang dibuat dengan bantuancomputerdenganmengkombinasikangambar, teks, efek suara, musik, dan suarapengisi guna menceritakan kisah l yang ditulis oleh Ana Boa(2008) dengan judul “Making News WithDigital Stories: Digital Storytelling as AFormaofCitizenJournalism”memaparkan:“When taken at face value, DigitalStorytelling simply means using computerbased tools to tell stories. Those tools allowfor the digital manipulation of content,which can be audio, text, still or movingimages.” Digital Storytelling dihasilkandaripenggunaancomputerdalammenciptakan sebuah cerita dengan caramemanipulasi dan memodifikasi konten,yang dapat berupa suara, teks, atau gambarbergerak.Digital Storytelling merupakan filmyang bersifat personal dan berdurasipendek. Media ini menggunakan gambargambar dan narasi (yang dibacakan olehnarator atau penutur cerita) untukmenyampaikansebuahkisahyangsederhana. Umumnya, Digital Storytellingberdurasi 2 - 3 menit dan menggunakansekitar 30 gambar atau foto dijital. DigitalStorytelling bisa juga dibuat dengangambar bergerak (film atau video klip),namun dengan foto atau gambar diam4

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001dijital. Digital Storytelling bisa juga dibuatdengan gambar bergerak (film atau videoklip), namun dengan foto atau gambar diampembuatannya lebih mudah.Dalamhttp://media.diknas.go.id,Digital Storytelling dapat menjadi salahsatu pilihan media pembelajaran yangmemiliki daya tarik tersendiri dibandingkanmedia cetak. Media ini relatif lebih mudahdan murah untuk dikembangkan olehlembaga yang mengembangkan programpemberdayaanataupengembanganmasyarakat, baik dari kalangan LembagaSwadaya Masyarakat (LSM), sektor/teknis,pemerintah desa, atau swasta. MeskipunDigital Storytelling merupakan filmsederhana, daya tariknya adalah cerita dangambarnya berasal dari masyarakat itusendiri. Tentunya akan lebih menimbulkansuatu kesan tersendiri bagi pembuatnya danmasyarakat yang ikut menikmati hasilkarya ini.KegiatanpembuatanDigitalStorytelling sebenarnya adalah prosespembelajaran, mulai dari menemukan idecerita sampai menyusunnya menjadi suatukisah yang mengajak merenungkansesuatu. Kisah ini dapat menjadi sebuahpengetahuan tentang kehidupannya, dandisajikan bagi pihak-pihak lain dalambentuk yang menarik serta mudahdipahami. Pada akhirnya hal tersebutadalah sebuah proses membangun dialogyang komunikatif, sekaligus sebagai upayamembangun “makna bersama”. Denganbegitu, Digital Storytelling menjadi mediaekspresi mengenai kehidupan dan realitasosial seperti pada gambar di bawah ini.Digital StorytellingSebagai MediaPembelajaran IPS SDIPS sebagai salah satu programpendidikan disebut sebagai synteticscience, karena konsep, generalisasi dantemuanilmiahnyaditentukandandiobservasi setelah fakta yang si,seleksi,modifikasi dari disiplin akademisilmu-ilmusosial yang diorganisasikan dan disajikansecara ilmiah dalam mewujudkan tujuanpendidikan nasional yang berdasarkanPancasila (HISPISI Yogya, 1991). IPSdalam pendidikan merupakan suatu konsepyang mengembangkan pengetahuan, sikap,dan ketrampilan sosial dalam rangkamembentuk dan mengembangkan pribadiwarga negara yang baik, juga telah menjadibagian dari wacana kurikulum dan sistempendidikan di Indonesia, dan merupakanprogram pendidikan sosial pada jalurpendidikan sekolah (Udin S, 2003).Mata pelajaran IPS bertujuanmengembangkan potensi peserta didik agarpeka terhadap masalah sosial yang terjadidi masyarakat, memiliki sikap mentalpositifterhadapperbaikansegalaketimpangan yang terjadi, dan terampilmengatasi setiap masalah yang terjadisehari-hari baik yang menimpa dirinyasendiri maupun yang menimpa kehidupanmasyarakat (Nursid Sumaatmaja, 1980).Berdasarkan Permendiknas nomor 22 tahun2006, IPS merupakan salah satu matapelajaran yang diberikan mulai dariSD/MI/SDLB sampai SMP/mts/SMPLB.IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta,konsep, dan generalisasi yang berkaitandengan isu sosial. Mata pelajaran IPSdisusun secara sistematis, komprehensif,dan terpadu dalam proses pembelajaranmenuju kedewasaan dan keberhasilandalam kehidupan di masyarakat. Denganpendekatan tersbeut diharapkan pesertadidik akan memperoleh pemahaman yangGambar 1. Contoh pembuatan video DST5

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001lebih luas dan mendalam pada bidang ilmuyang berkaitan. Sementara itu, ruanglingkup dari mata pelajaran IPS meliputiaspek-aspek: manusia, tempat, danlingkungan; waktu, keberlanjutan, danperubahan; sistem sosial dan budaya; danperilaku ekonomi dan kesejahteraan.IPS di Sekolah Dasar disampaikansecara terpadu yang kemudian di sebut IPSTerpadu. Pendidikan IPS di SD telahmengintegrasikan bahan pelajaran dalamsatu bidang studi. Hingga sekarang, bahwabuku-bukuIPSuntukSDtelahmemasukkan setidaknya lima sub bidangstudi, yakni Sejarah, Geografi, Politik,Hukum, dan Ekonomi. Guru-guru matapelajaran di SD-pun telah disiapkan secarakhusus, seperti SPG, dan PGSD.Pengembangan kurikulum PIPS untuksekolahdasartelahcukuplamadikembangkan. Format sistemnya lebihmatang dibandingkan kurikulum PIPSuntuk tingkat SMP.Akan banyak sekali keuntungannyaapabila para guru dapat menguasaiteknologi digital yang dapat dikembangkanmenjadi media ini. Apabila guru dapatmengtoptimalkannyadalamberbagaipembelajaran dimungkinkan para siswatidak jenuh lagi mengikuti pelajaran. Haltersebut dimungkinkan karena denganmedia digital, guru dapat menjelaskanmateri tidak berdasarkan buku lagi. Siswadapat diajak memahami permasalahan yangada di masyarakat secara kontekstual.Harapannyadenganmemberikanpenjelasan secara kontekstual akan lebihmudah siswa menangkap konsep yangsedang dipelajari. Buku pegangan tetapmasih menjadi referensi utama, tetapipenjelasan konsep yang ada pada bukupegangan siswa tersebut akan lebih mudahdipahami siswa dan akan lebih menariksiswa untuk belajar jika dijelaskan melaluisumber belajar yang inovatif dan menarik.Sumber belajar tersebut berupa gambar-gambar sesuai dengan kenyataan dimasyarakat atau data-data yang ada dilingkungansiswayangakanmemungkinkan siswa termotivasi untukbelajar dan mengembangkan sikap sertaketrampilan dalam hidup bermasyarakatkelak.Untukmencapaitujuanpembelajaran yang dapat inya. Bukan tidak mungkin padasekolah-sekolah tertentu para siswanyasudah banyak yangfamilier denganteknologi ini sementara ada banyak gurumalah belum memanfaatkannya. Akandapat merubah kejenuhan belajar siswa danmemudahkan tercapainya tujuan dalammempelajari jika guru dapat memanfaatkanteknologi digital sebagai media dalampembelajaran di kelas.Penjelasan guru dengan mediaberbasis komputer ini akan memudahkansiswa dalam memahami konsep-konseppembelajaran. Penjelasan guru dengan mediaberbasis komputer ini akan memudahkan siswadalam memahami konsep-konsep pembelajaran.Siswa tidak lagi harus menghafal pelajaransecara teksbook tetapi lebih ditekankanpada bagaimana menyelesaikan persoalansosial dengan tindakan yang lebih konkrit.Peran guru tetap saja penting dalam prosesbelajar mengajar. Namun demikian, bilagurumasihmenyampaikanpesanpembelajaran berdasarkan media buku sajamaka dimungkinkan hanyalah aspekkognitif saja yang meningkat dan bukanpada aspek afektif dan psikomotorik.Padahal, siswa pada usia remaja sangatlahpenting untuk dididik secara afektif danpsikomotoriksebagaibekaldalammengembangkan kompetensi sosial dimasyarakat kelak. Aspek kognitif melaluipembelajaran berdasarkan buku tekspunakan sangat berbeda dengan pembelajaranyang menggunakan media digital. Hal inidikarenakan di dalam media ini terdapat6

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001pesan moral dan gambar-gambar nyatakehidupan sehari-hari yang akan dapatmerangsang perasaan (aspek afektif) danketrampilan hidup (aspek psikomotorik)siswa. Disinilah peran sebuah mediadigital, yaitu sebagai alat untuk dapatmenarik perhatian siswa akan sebuah pesanpembelajaran yang bermakna dalamhidupnya. Media yang menarik akanmemudahkan siswa dalam memahamipembelajaran sehingga prestasi belajarmeningkat. Selain itu, media yang saratakan pesan moral dan penayangankehidupan sehari-hari dapat sebagai mediaguru dalam mendidik siswa sebagaigenerasi muda bangsa. Gurupun dapatmengajarkan ketrampilan berpikir danbertindak dalam menyelesaikan masalahmasalah sosial yang terjadi di lingkungansekitar.tidak hanya berperan untuk meningkatkanaspek kognitif saja, namun juga aspekafektif dan psikomotorik siswa sebagaibekal dalam hidup di masa depan.DAFTAR PUSTAKABauwens, J., Hourcade, JJ. 2001.Cooperative teaching: The Renewalof Teachers. The Clearing House.Bloom, B. S. 1976. Taxonomy onalGoals. New York: Longmans,Green, and Co.Boa, Ana. (2008). Making News WithDigital Stories: Digital Storytellingas A Forma of Citizen Journalism –Case Studies Analysis in the U.S.,UK and Portugal. Prisma Journal.Bonvallet, Susan. 2001. Roles forTechnologyinCollaborativeTeaching. Journal Calico. TexasState University.Etin Solihatin. 2007. Cooperative LearningAnalisis Model Pembelajaran IPS.Jakarta : Bumi Aksara.Hidayati, dkk. 2008. Bahan Ajar PJJPengembangan Pembelajaran IPS.Jakarta : Direktorat JenderalPendidikan Tinggi.Hopkins, David. 1993. A teacher’s guide toclassroom research. London: OpenUniversity.Lambert, J. 2012 Digital StorytellingCapturingLivesCreatingCommunity 4th Edition. New York:Routledge.Popham, W. J. 1995. Classroomassessment: What Teachers Need ToKnow. Needham Heights, MA:Allyn and Bacon.Puskurbuk.go.id diakses pada tanggal 9Januari 2016.Turkington, T., & Frank, R. 2005. Ajournalistic experiment in blended,SIMPULAN.Dengan Digital Storytelling sebagaimedia pembelajaran ini diharapkan guruguru terlatih untuk mampu memanfaatkangambar-gambar digital yang dibentukdalam media inovatif dalam emahamipembelajaran sekaligus menyenangkanbagi siswa sebab berupa gambar-gambarnyata di lingkungan sekitar.Kepentingan bagi siswa, mediaDigital Storytelling sebagai alat untukdapatmeningkatkanprestasidankompetensi sosial siswa. Pesan-pesanmoral dan gambar-gambar nyata tentangkehidupansehari-hariakandapatmerangsang jiwa sosial siswa. Sesuaidengantujuanpembelajaranyaitumeningkatkan aspek pengetahuan, sikap,dan ketrampilan siswa, media DigitalStorytelling ini akan berperan dalammenciptakan ketiga aspek tersebut. Dengandemikian, pembuatan media DigitalStorytelling bagi siswa sangatlah penting,7

JURNAL PENA KARAKTERJurnal Pendidikan Anak dan KarakterVol. 01, No. 01, Oktober 2018P.ISSN: 2654-3001collaborative teaching and learning.International Journal of Educationand Development using ICT.Winataputra, Udin S. (2003). Materi danPembelajaran IPS SD. PusatPenerbitan Universitas Terbuka.Zamroni. 1988. Pengantar PengembanganTeori Sosial. Jakarta: DepartemenPendidikandanKebudayaanDirektorat endidikanTenagaKependidikan.8

Digital Storytelling will attract attention so that will be more motivated to . teks, efek suara, musik,