Transcription

ChaparralProPERSEPSI MASYARAKATTERHADAP SEKOLAH FAVORITSetiap menjelang tahun ajaran baru dan setelah kelulusan peserta didik, maka akan diselenggarakanseleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB). Saat PPDB tersebut, masih banyak masyarakat yangberkeinginan putra putrinya diterima di sekolah impian sesuai pilihan. Sekolah impian mereka, biasanyamerupakan sekolah yang dianggap favorit karena sekolah itu sejak lama telah dipersepsikan sebagai sekolahyang bermutu oleh masyarakat (orangtua).Secara formal, Kemendikbud tidak pernah memberi label atau predikat pada satuan pendidikan sebagai sekolahfavorit. Istilah sekolah favorit muncul di kalangan dari masyarakat terhadap sekolah yang banyak peminatnya,dengan alasan beragam. Salah satu tipe sekolah yang masih dianggap favorit adalah sekolah unggulan dan ekssekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Masyarakat menilai, bahwa sekolah-sekolah tersebutlebih mutu baik dibandingkan dengan sekolah lainnya. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan serta dapatmematikan keberadaan sekolah-sekolah lain.Untuk melihat sejauhmana persepsi masyarakat terhadap sekolah favorit ini, Pusat Penelitian KebijakanPendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud), Balitbangbuk, Kemendikbud pada tahun 2019 telah melakukankajian yang bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat akan sekolah favorit dan merumuskan kebijakanyang terkait dengan hal tesebut.Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner secara online yang ditujukan padaSMAN eks RSBI dan orangtua siswa tersebut. Survei online dilakukan pada bulan Juni dan Juli 2019 terhadap1.498 orangtua siswa dari 32 SMA eks RSBI di 15 provinsi dan 24 kab/kota. Pengumpulan data juga dilakukanmelalui diskusi kelompok terpumpun (DKT/FGD) dengan pihak-pihak SMA baik negeri maupun swasta yangberdomisili di Jakarta, pihak PGRI, Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI), peneliti LIPI, akademisi perguruantinggi, Direktorat Pembinaan SMA Ditjen Dikasmen, serta PDSPK Kemdikbud.1

MENURUNNYA INTENSITAS BELAJAR MENGAJARBerbagai pendapat mengatakan bahwa sekolah favorit merupakan sekolah yang memiliki peminat banyak, dansekolah tersebut dijadikan pilihan pertama siswa, serta sekolah tersebut mampu mengedepankan output yangberkualitas dan berprestasi. Zainal (2014) menyebutkan bahwa sekolah favorit (favourite school) merupakanistilah lain dari sekolah yang efektif (effective school). Martono (2017) menyebutkan bahwa sekolah favoritadalah sekolah yang memiliki kemampuan finansial yang besar serta memiliki banyak siswa. Fuller (1987)menyebut bahwa tidak selalu benar anggapan yang menentukan keunggulan sekolah karena intake factor dariinputnya, yang meliputi karakteristik sosio ekonomik, ras, latar belakang keluarga, dan faktor materiil sepertiukuran kelas/sekolah, besarnya anggaran, perpustakaan, dan perlengkapannya. Jusuf Kalla (2018)mengatakan, sekolah yang hebat adalah jika sekolah tersebut bisa mengubah seorang siswa yang kurang pintarmenjadi lebih baik dan pintar.Berdasarkan hasil FGD disimpulkan, bahwa profil sekolah favorit adalah: (i) sekolah yang pernah memilikipredikat atau label seperti RSBI, Sekolah Uggulan, ditunjuk sekolah model dan lain-lain, memiliki warisan masalalu dengan proses yang panjang (history culture), tidak dibuat asal ada anggapan sekolah favorit; (ii) sekolahyang memiliki kekhasan tersendiri misalnya berbasis agama atau lainnya; (iii) sekolah yang memiliki latarbelakang ekonomi orang tua siswa menengah ke atas, kalangan tertentu, dengan latar belakang pendidikantinggi; (iv) sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai; (v) sekolah yang memiliki kerja samayang baik dengan orang tua; (vi) sekolah yang dapat membangun budaya belajar baik sehingga siswa menjaditerdorong belajar lebih giat, (vii) sekolah yang dikelola dengan kedisiplinan yang tinggi untuk pendidik danpeserta didiknya, serta melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu.Namun demikian, jika dilihat dari segi mutu, tidak semua SMA favorit (eks RSBI) yang menjadi samplingmemiliki nilai akreditasi lebih dari 90. Namun rata-rata capaian UN mereka cukup tinggi. Bahkan sebagian besarrata-rata SMA favorit dari sampling penelitian ini memiliki capaian rerata UN melampaui UN masing-masingprovinsi. Tabel 1 menggambar hal tesebut.Tabel 1 Capaian Rerata UN, Nilai Akreditasi, Rasio siswa/guru, Nilai UKG SMA eks RSBINoProvinsiSekolahDKI Jakarta2Capaian Rerata UN2019*)IPAIPS53,1468,55% GuruRasio Siswa /NilaitersertifikasiGuruAkreditasi1SMAN 28Jakarta Selatan84,6282,1978.0518.4495 (2015) A2SMAN 21Jakarta Timur80,3879,8966.6717.4795 (2018) A3SMAN 68Jakarta Pusat84,4784,0668.6316.8096 (2017) A4SMAN 78Jakarta Barat82,2284,0169.3518.6899 (2018) A

Jawa Barat48,575SMAN 3Bandung80,4368,4482.1418.3897 (2018) A6SMAN 5Bandung74,0763,3871.1522.7599 (2015) A7SMAN 1Bekasi78,8766,3781.5419.4298 (2010) A8SMAN 1Tasikmalaya63,4661,0086.4420.2298 (2015) A9SMAN 1Purwakarta65,161,0970.7716.6897 (2015) A10SMAN 1Majalengka66,3559,679.1019.0187 (2016) B61,0356,3Jawa Tengah11SMAN 1Semarang74,9773,998.6317.6398 (2017) A12SMAN 2Semarang72,8372,5885.1417.5597 (2017) A13SMAN 1Temanggung78,9479,5275.0019.2395 (2016) A69,6665,88DI Yogyakarta14SMAN 1Yogyakarta85,6385,8272.3113.7899 (2018) A15SMAN 2Yogyakarta80,4183,3188.2417.4798 (2018) A16SMAN 3Yogyakarta86,3187,8164.1513.1396 (2018) A17SMAN 5Yogyakarta77,380,8190.2015.7696 (2018) A18SMAN 8Yogyakarta83,8785,3881.8214.5597,55 (2014) A60,0554,35Jawa Timur354,4319SMAN 19Surabaya61,4259,8383.0520.8194 (2017) A20SMAN 21Surabaya67,4169,685.1120.3893 (2017) A

BaliSMAN 8Denpasar21AcehSMAN 2Modal Bangsa22Sumatera UtaraSMAN 1Matauli Pandan23SMAN 2 Balige24Sumatera BaratSMAN 3Padang25BengkuluSMAN 2Bengkulu26Sumatera SelatanSMAN 6,165.6720.5493 (2018) A-65.3817.0893.85 (2014) A47,7843,1865.3817.0893,85 (2014) A72,0863,6867.1216.7197 (2016) A72,8172,9859.6217.4896 (2016) A55,2948,5769,5768,2675.0017.0093 (2017) A51,0145,8964,2365,8566.6713.4699 (2016) A48,0942,4968.1215.0497 (2016) A67,7665,4673.5821.9296,88 (2015) A50,9245,4692,58 (2011) A28SMAN 9Bandar Lampung67,8755,164.4715.1293 (2016) A29SMAN 5Bandar Lampung56,2652,9389.8316.4286 (2017) B54,7848,8778,2368,9468.1818.7098,50 (2014) A46,8641,8346,3840,3479.0720.2393 (2018) A47,4643,4155,6947,4184.2914.1696 (2018) AKalimantan TimurSMAN 1Balikpapan30Sulawesi SelatanSMAN 15Makassar31NTB32SMAN 1Kota BimaSumber: Puspendik, Balitbang Kemendikbud (2019); Dapodik dan Sekolah Kita (Kemendikbud)4

Dari survei yang dilakukan, orang tua sebagai masyarakat menganggap bahwa dari sisi pembiayaan sekolah danjarak tempuh tidak menjadi pertimbangan utama dalam memilih sekolah. Namun lebih mengutamakan favorittidaknya sekolah yang diminati siswa tersebut.Selain itu, persepsi masyarakat terhadap sekolah yang dianggap favorit bukan karena prestasi akademis yangdiraih atau banyaknya dukungan program dari pemerintah. Namun, alasan orang tua atau siswa memilihsekolah yang dianggap favorit adalah karena banyaknya lulusan yang diterima di PTN (47,96 persen), sekolahmemiliki fasilitas yang lengkap (laboratorium, ruang kesenian, lapangan olahraga, dll.) sebesar 47,58 persen,disusul adanya rasa bangga atau prestise jika anak diterima di sekolah favorit (44,98 persen), berikutnya sekolahyang mampu memotivasi belajar anak semakin meningkat, karena untuk bisa diterima perlu bersaing denganketat (41,85 persen).Grafik 1 Persepsi masyarakat terhadap sekolah yang dianggap favorit41,85%Motivasi belajar anak semakin meningkat karenauntuk bisa diterima perlu bersaing dengan ketat32,25%Mayoritas gurunya lebih kompeten dibandingsekolah lainyaMerasa bangga ( prestise )44,98%Banyaknya lulusan yang diterima di PTN47,96%Banyaknya kegiatan ekstrakurikuler38,24%47,58%Sekolah memiliki fasilitas yang lengkap ( ruangkesenian, laboratorium, lapangan olahraga, dll. )Informasi dari orang tua/ saudara/ kerabat37,79%Berbagai prestasi akademis yang diraih37,79%33,25%Banyak dukungan program dari pemerintah( eks sekolah RSBI, sekolah model, sekolahrujukan, adiwiyata, dll.)0%10%20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar orang tua dan siswa beranggapan dengan diterimanya di sekolahfavorit, maka akan lebih menjanjikan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi yang menjadi idaman.Sebenarnya harus dipahami bahwa selama ini lulusan SMA tertentu yang sangat tinggi diterima masuk diSNMPTN, adalah karena ada faktor kuota dari Kemenristekdikti yang berbeda antara sekolah yang satu dengansekolah lain.UPAYA MENGHILANGKAN PERPSESI MASYARAKAT YANGBERLEBIHAN TERHADAP SEKOLAH FAVORITPemerintah telah berupaya mengatasi fenomena labelisasi sekolah favorit tersebut dengan kebijakan sistemzonasi melalui Penerimaan Peserta Didik Baru yang diberlakukan sejak tahun 2017. Kebijakan ini diupayakanuntuk mengurangi kesenjangan mutu antar sekolah dan dalam jangka panjang untuk meningkatkanpemerataan mutu pendidikan.5

Pemberian kuota PTN hendaknya berdasarkan prestasi siswa dan bukan dari reputasi sekolah. Akreditasisekolah belum mengambarkan mutu sekolah, sebaiknya menjadi koreksi bagi penyelenggara pendidikan untuklebih meningkatkan sistem yang sudah dijalankan. Sistem zonasi tidak akan membuat sekolah-sekolah favorititu punah, sebaliknya zonasi akan memacu pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan kualitas tiap-tiapsekolah di tanah air tanpa terkecuali melalui fasilitas, pendanaan yang baik, kompetensi guru, kesejahteraanguru, kualitas proses pembelajaran, akses yang terbuka, dan output yang baikREKOMENDASIPelaksanaan zonasi sudah berjalan 3 tahun, namun penerapannya perlu dukungan dan semua pihak. Jika iniberjalan dengan baik, maka sekolah-sekolah akan dapat memenuhi semua Standar Nasional Pendidikan (SNP)khususnya sarana dan prasarana serta pendidik dan tenaga kependidikan. Sekolah juga perlu mengevaluasi diridengan menerapkan sepenuhnya Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang telah ditetapkan olehKemendikbud agar dapat meningkatkan mutu dan akuntabilitasnya.Dalam rangka meningkatkan mutu sekolah, UN dapat terus dilaksanakan. Dalam hal ini, hasil UN tidak menjadisyarat kelulusan, melainkan untuk pemetaan pendidikan, sehingga pemerintah maupun masyarakat bisamembedakan mana sekolah bermutu dan yang tidak.Dalam rangka pemerataan pendidikan, sangat diperlukan sinkronisasi tugas dan fungsi antara Pemerintahdengan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. Undang-Undang Otonomi Daerah sangat jelas membatasikewenangan masing-masing, namun kondisi tersebut justru membuat beberapa kebijakan di daerah tidakberjalan dengan baik, misalnya kebijakan pendidikan dasar (SD dan SMP) dikelola oleh PemerintrahKabupaten/Kota dan pendidikan menengah (SMA/SMK) dikelola oleh pemerintah provinsi. Diperlukanpengaturan regulasi lebih lanjut ditingkat Peraturan Pemerintah mengenai pengelolaan pendidikan. Bahkan jikaperlu merekonstruksi ulang undang-undang otonomi daerah atau undang-undang sistem pendidikan nasional.Kebijakan zonasi harus terus dilaksanakan pada semua jenjang agar kesenjangan pendidikan dapat teratasi.Jika semua kesenjangan teratasi, masyarakat tidak perlu khawatir dengan pendidikan dan masa depan anaknya.Pelayanan pendidikan bermutu dapat dijangkau dengan mudah dari tempat tinggal. Kemendikbud melaluiDirektorat Jenderal Pendidikan Tinggi sebaiknya tidak lagi menentukan penerimaan mahasiswa baru melaluijaringan undangan berdasarkan pertimbangan reputasi sekolah, namun berdasarkan reputasi peserta didik.DAFTAR RUJUKANAqib, Zainal. 2014. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual. (Inovatif). Bandung: YramaWidyaMartono, Nanang. 2017. Sekolah Publik Vs Sekolah Privat dalam Wacana Kekuasaan, Demokrasi, danLiberalisasi Pendidikan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor IndonesiaFuller, R. 1987, A Review, Probiotics in Man and Animals, Journal of Applied. Bacteriology 66, 365-378Jusuf Kalla, 2018. Pidato pengarahan dalam Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018,Sawangan Depok, Jawa Barat, IndonesiaRisalah Kebijakan ini merupakan hasil dari penelitian/ kajian yang dilakukan olehPusat Penelitian Kebijakan pada tahun 2020untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:Pusat Penelitian KebijakanBadan Penelitian dan Pengembangan dan PerbukuanKementerian Pendidikan dan KebudayaanKompleks Kemdikbud, Gedung E, Lantai 19Jl. Jenderal Sudirman-Senayan, Jakarta 10270Telp. 021-5736365, 5713827.website: puslitjakdikbud.kemdikbud.go.id.6Tim Penyusun :Bambang Suwardi JokoCatur Dyah FajariniRahma Astuti

95 (2018) A 96 (2017) A 99 (2018) A 79,89 84,06 84,01 Capaian Rerata UN 2019*) % Guru tersertifikasi Rasio Siswa / Guru Nilai Akreditasi Tabel 1 Capaian Rerata UN, Nilai Akreditasi, Ra