Transcription

BAB IIKAJIAN PUSTAKA2.1 Kajian Umum Tentang Tikus Putih (Rattus novergicus)Rattus novergicus merupakan hewan menyusui (kelas mamalia) yangmempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, baik bersifatmenguntungkan maupun merugikan. Sifat menguntungkan terutama dalamhal penggunaannya sebagai hewan percobaan di laboratorium. Sifatmerugikan yaitu dalam hal posisinya sebagai hama pada komuditas pertanian,hewan pengganggu, serta penyebar dan penular (vector) dari beberapapenyakit pada manusia (Priyambodo, 2007).Rattus novergicus sebagai hewan omnivora (pemakan segala) yangbiasanya mau mengkonsumsi semua makanan yang dapat dimakan manusia.Kebutuhan pakan bagi seekor tikus setiap harinya kurang lebih sebanyak 10%dari bobot tubuhnya, jika pakan tersebut berupa pakan kering. Hal ini dapatpula ditingkatkan sampai 15% dari bobot tubuhnya jika pakan yangdikonsumsi berupa pakan basah. Kebutuhan minum seekor tikus setiap harikira-kira 15-30 ml air. Jumlah ini dapat berkurang jika pakan yangdikonsumsi sudah mengandung banyak air (Priyambodo, 2007).Tingkat konsumsi dipengaruhi oleh temperatur kandang kelembaban,kesehatan dan kualitas makanan itu sendiri. karakteristik tikus yaitu : (1) tidakmemiliki kantung empedu (gall blader), (2) tidak dapat memuntahkankembali isi perutnya, (3) tidak pernah berhenti tumbuh, namun kecepatannyaakan menurun setelah berumur 100 hari (Sudrajat, 2008).13

142.1.1 Klasifikasi Tikus Putih (Rattus novergicus)Menurut Handayaningsih (2006) klasifikasi dari Rattus novergicusadalah sebagai berikut:KingdomFilumSub FilumKelasOrdoFamiliGenusSpesies: Animalia: Chordata: Vertebrata: Mammalia: Rodentia: Murinae: Rattus: Rattus novergicus2.1.2 Deskripsi Tikus Putih (Rattus novergicus)Hewan coba merupakan hewan yang dikembangbiakkan untukdigunakan sebagai hewan uji coba. Tikus sering digunakan sebagai hewancoba selama bertahun-tahun. Hal ini dikarenakan tikus memilikikarakteristik dan fisiologi yang hampir sama dengan manusia. Tikusperkembangbiakannya cepat dan memiliki jumlah keturunan yang banyak(Chaqiqi, 2013).Gambar 2.1 Rattus novergicus

15Rattus novergicus atau biasa dikenal dengan nama lain Norway Ratberasal dari wilayah Cina dan menyebar ke Eropa bagian barat. Padawilayah Asia Tenggara, tikus ini berkembang biak di Filipina, Indonesia,Laos, Malaysia, dan Singapura. Faktor yang mempengaruhi penyebaranekologi dan dinamika populasi Rattus novergicus yaitu faktor abiotik danbiotik (Sirois, 2005).Rattus novergicus merupakan salah satu hewan percobaan dilaboratorium. Hewan ini dapat berkembangbiak secara cepat dan dalamjumlah yang cukup besar. Rattus novergicus ini berbeda dengan mencit,karena hewan ini memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari padamencit. Dua sifat yang membedakan dari hewan percobaan lain adalahRattus novergicus tidak mudah muntah karena struktur anatomi yang tidaklazim di tempat esophagus bermuara ke dalam lambung dan tidakmemiliki kantung empedu (Chaqiqi, 2013).Saat umur 2 bulan berat badan Rattus novergicus dapat mencapai200-300 gram. Berat badan tersebut dapat juga mencapai 500 gram,dengan ukuran yang relatif besar, Rattus novergicus mudah dikendalikanatau dapat diambil darahnya dalam jumlah yang relatif besar pula(Kusumawati, 2004).2.1.3 Sistem Pencernaan Rattus novergicusSistem pencernaan tikus menurut (Uqbal,2007) terdiri atas saluranpencernaan atau kelenjar-kelenjar yang berhubungan, fungsinya untuk :

16a) Ingesti dan Digesti makanan.b) Absorbsi sari makanan.c) Eliminasi sisa makanan.Sistem pencernaan pada hewan tikus sama dengan pencernaan padamanusia, karena tikus adalah hewan yang memiliki genetika lengkap danmempunyai organ yang hampir sama dengan manusia.1) Pencernaan di mulut dan di rongga mulut,makanan di giling menjadikecil-kecil oleh gigi dan di basahi oleh saliva.2) Disalurkan melalui faring dan esophogus.3) Pencernaan di lambung dan di usus halus. Dalam usus halus diubahmenjadi asm-asam amino, monosakarida, gliserida, dan unsur-unsurdasar yang lain.4) Absorsi air dlam usus besar akibatnya, isi yang tidak dicerna menjadisetengah padat (feses).5) Feces dikeluarkan dari dalam tubuh melalui kloaka (bila ada)kemudian ke anus.2.1.4 Sistem Ekskresi Pada Rattus novergicusEkskresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolismeyang sudah tidak digunakan oleh tubuh dan dapat dikeluarkan bersamaurin, keringat atau pernapasan. Pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolismedari dalam tubuh dapat melalui ginjal, kulit, paru-paru, dan saluranpencernaan. Dalam proses ekskresi ada beberapa bagian tubuh yangmempunyai fungsi penting antara lain kulit, paru-paru, ginjal dan hati. Alat

17eksresi ini yang berfungsi sebagai sistem imun tubuh adalah hati danginjal, karena hati dapat menawarkan racun, sebagai tempat pembentukdan pembongkaran sel darah merah, sedangkan ginjal berfungsi untukmengeluarkan zat – zat yang membahayakan tubuh dan mempertahankanasam dan basa (Restuati, 2014).2.1.4.1 HatiHati adalah organ dalam yang paling besar dan mempunyaiperanan utama dalam metabolisme tubuh. Hati memproduksi empeduyang membantu pencernaan lemak dan hati sendiri memproses asamamino, glukosa, asam lemak, serta gliserol.Fungsi hati selainmelindungi tubuh terhadap terjadinya penumpukan zat berbahaya dariluar maupun dari dalam, juga merupakan tempat dimana obat dan bahantoksik lainnya dimetabolisme (Sativani, 2010).Gambar 2.2. Anatomi Tikus (Ulilalbab, 2012)

18Hati merupakan organ sensitif, fungsinya yang penting adalahmelindungi tubuh terhadap terjadinya penumpukan zat berbahaya yangmasuk dari luar, seperti obat tertentu. Sebagian besar obat masukmelalui saluran cerna, dan hati terletak diantara permukaan absortif darisaluran cerna dan organ target obat dimana hati berperan sentral dalammetabolisme obat (Julita, 2012).Pemberian obat secara oral akan melewati saluran pencernaan dandiabsrobsis oleh usus. Di dalam usus obat akan mengalami absrobsitidak lengkap sehingga menembus dinding usus menuju hepar melaluivena porta dan dimetabolisme di hepar (Mandrasari, 2014). Hatimelaksanakan fungsi pencernaannya terhadap sebagian besar bahankimia beracun melalui aktivitas enzim yang beraneka ragam dengan duacara yaitu degradasi dan konjugasi. Hati manjadi perantara antarasistem pencernaan dan darah. Hati memiliki berbagai fungsidibandingkan organ lain dalam tubuh ( Jeharatman dan Koh, 2005).Gambar 2.3 Hepar (Kurnia, 2016).

19Hati merupakan organ yang mempunyai berbagai macamaktivitas metabolisme (Salasia dan Hariono, 2010). Dibungkus olehsimpai tipis jaringan ikat (kapsula Glisson) yang menebal dihilum,tempat vena porta dan arteri hepatika memasuki hati dan duktushepatikus kiri dan kanan serta tempat keluarnya pembuluh limfe.Terdiri dari lobus kiri, lobus median, lobus kanan, dan lobus caudatus(Boorman, 2006).Dalam hati terdapat tiga jenis jaringan yang penting yaitu selparenkim hati, susunan pembuluh darah dan susunan saluran. Secaramikroskopis, setiap lobus hati terbagi menjadi struktur-struktur yangdisebut sebagai lobulus, yang merupakan unit mikroskopis danfungsional organ empedu ( Darmawan, 2003).2.1.4.2 Histologi HatiSel–sel yang terdapat di hati antara lain: hepatosit, sel endotel,dan sel makrofag yang disebut sebagai sel kuppfer, dan sel ito (selpenimbun lemak). Sel hepatosit berderet secara radier dalam lobulushati dan membentuk lapisan sebesar 1-2 sel serupa dengan susunanbata. Lempeng sel ini mengarah dari tepian lobulus ke pusatnya danberanastomosis secara bebas membentuk struktur seperti labirin danbusa. Celah diantara 14 lempeng-lempeng ini mengandung kapiler yangdisebut sinusoid hati (Susanti, 2015). Berikut gambaran histologi hepar;

20Gambar 2.4 Histologi Hepar ((Eroschenko, 2010)Hepatosit merupakan sel utama yang bertanggung jawab terhadapperan sentral hati dalam metabolisme. Fungsi hati selain melindungitubuh terhadap terjadinya penumpukan zat berbahaya dari luar maupundari dalam, juga merupakan tempat dimana obat dan bahan toksiklainnya dimetabolisme (Sativani, 2010). Berdasarkan hasil pengamatan,hepatosit normal mempunyai ciri-ciri: sel tersusun secara radierterhadap vena sentralis, bentuk sel bulat dan oval dan terdapat lempenglempeng hepatosit. Sel terlihat memiliki satu nukleus, namun ada jugayang memiliki lebih dari satu nucleus (binukleat) yang terdapat ditengah sel (Fajariyah, 2010).2.1.4.3 Degenerasi HidropikTerdapat banyak faktor yang mempengaruhi fungsi hati, makasulit untuk mengetahui dan menetapkan besarnya jaringan hati yangsakit, apakah proses gangguan dalam hati difus atau local sulit untukditentukan. Meskipun ada proses patologis dalam hati, tetapi mungkin

21saja tidak ditemukan adanya perubahan dari hasil uji fungsi hati (Farina,2007).Kerusakan hati ditandai dengan adanya kematian sel. Kematiansel-sel hati diawali dengan adanya degenerasi sel pada hati (Insani,2015). Menurut Santosa (2005) apabila senyawa racun yang masukterlalu besar dan bersifat toksik, maka akan menimbulkan degenerasisel hepar. Degenerasi sel adalah perubahan struktur sel normal sebelumterjadi kematian sel (Spector, 2006). Kerusakan- kerusakan pada hatimeliputi: degenerasi hidropik, degenerasi lemak, degenarasi amiloid,degenerasi bengkak keruh, degenerasi glikogen, dan nekrosis (Rusmiatidan Lestari 2004).Degenerasi hidrofik merupakan jejas sel yang reversibel denganpenimbunan intraselular yang lebih parah jika dengan degenerasialbumin, umumnya disebabkan oleh gangguan metabolisme sepertihipoksia atau keracunan bahan kimia. Gangguan metabolisme selbiasanya didahului oleh berkurangnya oksigen karena pengaruhsenyawa toksik ke dalam tubuh (Rusmiati dan Lestari 2004). Secaramikroskopik organ yang mengalami degenerasi hidrofik menjadi lebihbesar dan lebih berat daripada normal dan juga nampak lebih pucat.Terlihat juga vakuola-vakuola kecil sampai besar dalam sitoplasma(Adikara, 2013).Dikategorikan dalam derajat kerusakan yang lebih berat, padadegenerasi hidropik akan tampak vakuola yang berisi air dalam

22sitoplasma dan tidak mengandung lemak atau glikogen. Degenerasi inibersifat reversibel meskipun tidak menutup kemungkinan bisa menjadiirreversibel apabila penyebab cederanya menetap. Sel yang telah cederakemudian bisa mengalami robekan membran plasma dan perubahan intisehingga sel mati atau nekrosis (Utomo, 2012). Berikut gambaranterjadinya degeherai hidropik;2.1.4.4 Nekrosis HatiHepatosit dapat mengalami resiko terpapar bahan toksik danmengalami kerusakan ketika melakukan fungsi detoksifikasi. Apabilapaparan zat toksik pada sel cukup hebat atau berlangsung cukup lama,maka sel akan mencapai suatu titik hingga sel tidak dapat lagimengkompensasi dan tidak dapat melanjutkan metabolisme. Perubahanyang reversibel akan menjadi irreversibel, yaitu terjadinya kematian sel(nekrosis sel) (Agustiyanti, 2008).Proses kematian sel dapat terjadi secara apoptosis dan nekrosa.Kematian sel secara apoptosis berbeda dengan nekrosa yang umumnyaterjadi akibat cedera pada sel. Nekrosa adalah proses pasif disintegrasi

23sel, sedangkan apoptosis adalah mekanisme proses aktif yangmembutuhkan energi, dimana sel itu sendiri aktif berpartisipasi dalamproses destruksi (Riadi, 2006).2.2 Bahan Pemicu Radikal Bebas2.2.1 TimbalLogam berat terdiri dari logam essensial dan logam non essensial.Logam essensial adalah logam yang sangat membantu dalam prosesfisiologis makhluk hidup dengan jalan membantu kerja enzim ataupembentukan organ dari makhluk yang bersangkutan. Sedangkan logamnon essensial adalah logam yang peranannya dalam tubuh makhluk hidupbelum diketahui, kandungannya dalam jaringan hewan sangat kecil, danapabila kandungannya tinggi akan dapat merusak organ-organ tubuhmakhluk yang bersangkutan (Tridayani, 2010).Timbal merupakan logam berat yang terdapat secara alami di dalamkerak bumi dan tersebar ke alam dalam jumlah kecil melalui proses alamimauapun buatan. Apabila timbal terhirup atau tertelan oleh manusia akanberedar mengikuti aliran dara, diserap kembali di dalam ginjal dan otakdan disimpan di dalam tulang dan gigi. Manusia terkontaminasi timbalmelalui udara, debu, air dan makanan (Achmad, 2004).Raharjo (2006) menambahkan bahwa timbal adalah salah satu jenislogam berat yang berasal dari kerak bumi karena proses alam danpenambangan menyebabkan timbal dapat dijumpai pada ekosisremmakhluk hidup. Logam timbal banyak digunakan pada kehidupan sehari-

24hari dari kosmetik sampai bahan bakar kendaraan bermotor. Jalurmasuknya timbal ke dalam tubuh manusia dapat melalui saluranpencernaan lewat makanan dan minuman, hirupan asap kenderaanbermotor serta hasil industri dan melalui penyerapan kulit.Menurut Environment Project Agency sekitar 25% timbal tetapberada dalam mesin dan 75% lainnya akan mencemari udara sebagai asapknalpot. Emisi timbal dari gas buangan tetap kan menimbulkanpencemaran udara dimanapun kenderaan itu berada. Tahapannya adalahsebanyak 10% akan mencemari lokasi dalam radius kurang dari 100 m, 5%akan mencemari lokasi dalam radius 20 km dan 35% lainnya terbawaatmosfer dalam jarak yang cukup jauh (Surani, 2002).2.2.2 Sifat Fisika dan Kimia TimbalTimbal adalah logam berat dengan nomor atom 82, berat atom 207,19 dan berat jenis 11,34. Bersifat lunak dan berwarna biri keabu-abuandengan kilau logam yang khas sesaat setelah dipotong. Kilaunya akansegera hilang sejalan dengan pembentukan lapisan oksida padapermukaannya, mempunyai titik leleh 327,50C dengan titik didih 1740 C(Hazani 2013).Lebih dari 95% timbal merupakan senyawa onorganik dan umunyadalam bentuk garam timbal anorganik, kurang larut dalam air danselebihnya berbentuk timbal organik. Senyawa timbal organik ditemukandalam bentuk senyawa tetraethyllead (TEL) dan tetramethylled (TML).

25Jenis senyawa ini hampir tidak larut dalam air, namun dapat larut dalampelarut organik, misalnya dalam lipid (Raharjo, 2006).Akumulasi timbal dalam tubuh dapat menyebabkan gangguanterhadap berbagai sistem dalam tubuh. Hal ini terjadi karena adanyakeracunan timbal. Ukuran keracunan ditentukan oleh kadar dan lamanyapemaparan senyawa timbal. Keracunan dapat dibagi menjadi dua yaitukeracunan akut dan keracunan kronis yang disebabkan oleh adanya kadartimbal yang berlebih (melebihi ambang batas) (Fauzi, 2008).Timbal dalam jangka waktu panjang dapat terakumulasi dalam tubuhkarena proses eliminasi yang lambat. Setiap liter bensin dalam angka oktan87 dan 98 mengandung 0,70g senyawa timbal Tetratil dan 0,84gTetrametil timbal. Setiap satu liter bensin yang dibakar jika dikonversiakan mengemisikan 0,56g timbal yang dibuang ke udara (Librawati,2005).Toksisitas timbal pada kesehatan manusia mempunyai pengaruhyang luas, dari gangguan syaraf, gangguan metabolisme tulang sampaikerusakan ginjal dan gangguan fungsi hati. Bahkan penelitian terakhirmenunjukkan bahwa logam timbal memiliki sifat karsinogenik yang dapatmerangsang terjadinya kanker pada manusia (Intani, 2010).2.2.3 Proses Pembentukan Radikal BebasReaksi pembentukan radikal bebas merupakan mekanisme biokimiatubuh normal. Radikal bebas lazimnya hanya bersifat perantara yang bisadengan cepat diubah menjadi substansi yang tidak lagi membahayakan

26tubuh. Namun bila radikal bebas bertemu dengan enzim atau asam lemaktak jenuh ganda makan akan menjadi awal mula kerusakan sel sepertikerusakan DNA pada inti se (Handayaningsih, 2006).Senyawa oksigen reaktif dapat terbentuk setiap saat dalam berbagaikegiatan, bahkan begitu kita sedang bernafas. Sumanggo (2007)mengatakan bahwa berdasarkan jalur pembentukannya radikal bebas dapatdibagi menjadi 2 yaitu radikal endogen dan radikal eksogen. Radikal bebasendogen dihasilkan dari jumlah reaksi seluler yang dikatalis oleh besi (Fe)dan reaksi enzimatis seperti lipooksigenase, peroksidase, NADPHoksidase dab xanthin oksidase atau juga dapat diartikan sebagai responnormal proses biokimia yang dihasilkan dari luar tubuh seperti polutanlingkungan yang berupa emisi kenderaan bermotor dan industri, asaprokok, radiasi, ioniasi, infeksi bakteri, jamur, virus serta paparan zat kimia(Hazani, 2013).Efek kerja radikal bebas lebih besar dibandingkan dengan oksidanpada umumnya. Molekul-molekul seluler dan dan bahan-bahan penyusunDNA seperti karbohidrat dan basa purin dapat rusak akibat radikal itinggimenyebabkan kematian sel, gangguan sistem enzim, merusak DNA danRNA sehingga terjadi mutasi gen (Sayuti, 2015).2.2.4 Pengaruh Radikal Bebas Terhadap Organ HeparRadikal bebas merupakan atom atau molekul yang memilikielektron tidak berpasangan. Salah satu target akibat radikal bebas adalah

27senyawa lipid, protein, asam lemak tak jenuh, lipoprotein, karbohidrat,serta DNA dan RNA. Beberapa molekul tersebut yang paling rentanterhadap serangan radikal bebas adalah asam lemak tak jenuh yang beradadi dalam sel (Fauzi, 2008).Kerusakan sel akibat serangan radikal bebas yang paling awaldiketahui adalah peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid paling banyak terjadidi membran sel, terutama asam lemak tidak jenuh yang merupakankomponen penting penyusun membran sel. Hal ini akan memicu terjadinyapeningkatan produk Reactive Oxygen Species (ROS). Aktivitas ROS yangberlebih dapat meningkatkan terjadinya stres oksidatif. Suatu keadaan dimanaterjadi ketidakseimbangan antara prooksidan dan antioksidan (Siregar, 2009).Radikal bebas atau oksidan atau spesies oksigen reaktif (ReactiveOxygen Species, ROS) merupakan hal yang normal dan terbentuk secaraterus menerus dalam tubuh manusia Oksigen reaktif dapat terbentuk secaraendogen maupun eksogen dalam sistem metabolik regular, aktivitas fisik,gaya hidup, dan pola makan. Selain itu, radikal bebas juga bisa didapatkandari paparan radiasi, rokok, polusi udara, logam berat, pestisida dan foodadditive (Miharja 2005).Radikal bebas bertanggung jawab terhadap kerusakan tingkat seldan jaringan terkait usia. Pada kondisi normal, terjadi keseimbangan antaraoksidan, antioksidan, dan biomolekul. Radikal bebas yang berlebihmenyebabkan antioksidan seluler natural kewalahan, memicu oksidasi, danberkontribusi terhadap kerusakan fungsional seluler. Peningkatan Reactive

28Oxygen Species (ROS) tersebut dapat terjadi sebagai akibat darimetabolisme oksigen, reperfusi oksigen saat kondisi hipoksia, oksidasihemoglobin dan mioglobin, dan lain-lain (Finaud, 2006).Akibat radikal bebas di dalam tubuh maka akan terjadi beberapagangguan penyakit, salah satunya adalah kerusakan hati. Namun padakondisi patologis, misalnya paparan dari asap rokok atau polusi, produksiROS akan meningkat sehingga mengganggu keseimbangan sistemprooksidan. Kadar ROS yang tinggi dalam sel dapat mengoksidasi lipid,protein, dan DNA. Bila stres oksidatif sangat berlebihan maka diperlukantambahan antioksidan dari luar, Salah satunya bahan alami yang banyakdikenal oleh masyarakat adalah tanaman kelor (Winarti, 2010).Winarti (2010) mengemukakan bahwa antioksidan merupakansenyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi dengan cara mengikatradikal bebas dan molekul yang sangat reaktif, akibatnya, kerusakan selakan terhambat. Antioksidan memiliki sistem pertahanan secara preventifyaitu bekerja dengan cara memotong reaksi oksidasi berantai dari radikalbebas, sehingga radikal bebas tidak mampu bereaksi dengan komponensekunder (Hariyatmi, 2004).2.2.4.1 Stres OksidatifStres oksidatif didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadiketidakseimbangan antara pro oksidan dan antioksidan di dalam tubuh(Powers dan Jackson, 2008). Lebih lanjut, Yoshikawa dan Naito (2002:271) mendefinisikan stres oksidatif sebagai suatu keadaan dimana

29proses oksidasi melampaui sistem pertahanan antioksidan di dalamtubuh sehingga terjadi ketidakseimbangan pada sistem tersebut. Finauddkk (2006: 328) memperkuat pernyataan tersebut dengan menjelaskanbahwa stres oksidatif dapat terjadi karena adanya ketidakseimbanganantara produksi radikal bebas dengan sistem pertahanan antioksidan didalam tubuh.Stres oksidatif di dalam tubuh memiliki target kerusakan NA(Wahyuni,2008). Selain itu juga berperan pada proses penuaan danpemicu terjadinya beberapa penyakit seperti kanker dan penyakitParkinson (Finaud, 2006). Stres oksidatif pada sistem biologis seringditandai dengan beberapa parameter meliputi: (1) peningkatan formasiradikal bebas dan oksidan lainnya, (2) penurunan antioksidan, (3)ketidakseimbangan reaksi redoks pada sel, dan (4) kerusakan oksidatifpada komponen-komponen sel seperti lemak, protein, dan DNA(Powers dan Jackson, 2008).Terdapat beberapa macam senyawa yang dapat dijadikan sebagaiindikasi terjadinya stres oksidatif. Powers dan Jackson (2008)menyebutkan macam-macam senyawa yang dapat dijadikan sebagaiindikator terjadinya stres oksidatif yaitu: (1) golongan oksidan meliputiSuperoxide anions, Hydroxyl radical, Hydrogen peroxide, tathione,Ascorbate, Alpha-tocopherol, dan Total antioxidant capacity, (3)

30golongan penyeimbang antioksidan/pro-oksidan meliputi GSH/GSSHratio, Cysteine redox state, dan Thiol/disulfide state, serta (4) golonganproduk oksidasi meliputi Protein carbonyls, Isoprostanes, Nitrotyrosine,8-OH-dG, dan Malondialdehyde (MDA).Stres oksidatif terjadi jika produksi ROS alamiah tidak dapatdiseimbangkan oleh kapasitas antioksidan jaringan. ROS berlebihandapat menginduksi kerusakan komponen seluler secara ireversibel danmenyebabkan kematian sel melalui jalur apoptosis intrinsik melaluimitokondria, sehingga memicu kerusakan DNA mitokondria, disfungsi,dan peningkatan apoptosis sel. Peningkatan apoptosis berhubungandengan perombakan sel dan pemendekan telomer - ujung DNA yangmembatasi jumlah mitosis sel (Zalukhu, ndiseimbangkan oleh sistem antioksidan endogen tubuh melalui kofaktorataupun oleh antioksidan eksogen dari asupan. Jika jumlah radikalbebas melampaui efek protektif antioksidan dan kofaktor, akan terjadikerusakan oksidatif yang terakumulasi dan berpengaruh terhadap prosespenuaan serta penyakit terkait usia seperti penyakit kardiovaskuler,kanker, kelainan neurodegeneratif, dan berbagai kondisi kronis lain(Rahman, 2007).2.3 Bahan Alternatif Pengobatan Kerusakan Jaringan Hati2.3.1 Klasifikasi Moringa oleifera L.

31Klasifikasi tanaman Moringa oleifera L. yang disusun berdasarkantakson-takson sebagai berikut (Tilong, 2011) :KingdomDivisKelasOrdoFamiliGenusSpesies: Plantae: Magnoliophyta: Magnoliopsida: Brassicales: Moringaceae: Moringa:Moringa oleifera L2.3.2 Deskripsi Moringa oleifera L.Moringa oleifera L. merupakan tanaman perdu yang tumbuh tegakdan berumur panjang (perenial), batang berkayu (lignisus), berkulit tipis,permukaan kasar, tinggi dapat mencapai 7-11 meter dan kayunya mudahpatah. Cabangnya jarang tetapi mempunyai akar kuat, arah cabang tegakatau miring, serta cenderung tumbuh dan memanjang (Winarti, 2010).Daun Moringa oleifera L. memiliki karakteristik bersirip tidaksempurna, berbentuk menyerupai telur. Daun bersusun majemuk dalamsatu tangkai, tersusun berseling, dan beranak daun gasal. Daunnya tipisdan lemas, ujung pangkal tumpul (obtusus), pangkal daun membulat, tepidaun rata, susunan tulang menyirip (pinate), permukaan atas dan bawahhalus (Winarti, 2010).Bunga Moringa oleifera L. berwarna putih kekuningan dan tudungpelepah berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang dengan aroma baudan menebarkan bau aroma yang khas. (Tilong, 2011). Daun dan akarMoringa oleifera L. banyak mengandung senyawa alkali, protein, vitamin,asam amino dan karbohidrat yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional.

32Biji kelor juga dapat digunakan sebagai penjernih atau koagulan airlimbah, dan penyembah asam urat, sehingga biji kelor dapat bernilaiekonomi tinggi (Silaen, 2008).Gambar 2.5Pohon Tanaman Kelor(Moringa oleifera)2.3.3 Kandungan Senyawa Aktif Moringa oleiferaMoringa oleifera memiliki kandungan yang sangat bermanfaatdalam kehidupan, di mulai dari daun, bunga, buah, biji, kulit, akar dangetahnya. Daun Moringa oleifera mengandung berbagai macam zatdiantaranya adalah protein 27,51%, serta 19,25%, lemak 2,23%, kadar air76,53%, karbohidrat 43,88% dan kalori 305,62 kal/g. Selain itu daun kelorjuga mengandung berbagai macam senyawa dan salah satu diantaranyaadalah beberapa jenis vitamin yang berpotensi sebagai senyawaantioksidan (Winarti, amin.Antioksidan enzim meliputi superoksida dismutase, katalase dan glutationperoksidase. Antioksidan vitamin terdiri dari vitamin A, vitamin C danvitamin E. Kandungan antioksidan pada Moringa oleifera antara lain

33alkaloids, saponins, fitosterols, tannins, fenolik dan flavonoid (Rajanandh,2012).Beberapa contoh bahan makanan sumber antioksidan selain Moringaoleifera diantaranya adalah apel, tomat, teh hijau, dan sebagainya. DaunMoringa oleifera sebagai salah satu alternatif bahan makanan sumberantioksidan belum banyak diteliti kegunaannya dalam menurunkanaktifitas radikal bebas di dalam tubuh. Berikut ini adalah macam-macamvitamin yang terkandung dalam daun Moringa oleifera (Winarti, 2010).Tabel 2.1. Kandungan vitamin pada daun kelor (Moringa oleifera L):Kandungan vitamin (mg/100Jenis Vitamingram daun Moringa oleiferaVitamin A – β16,3Vitamin B kompleks – kolin423Vitamin B1 – thiamin2,6Vitamin B2 – riboflavin20,5Vitamin B3 – asam nikotinat8,2Vitamin C – asam askorbat17,3Vitamin E – tocophenol asetat113Sumber : Winarti (2010)Kandungan senyawa vitamin yang tercantumkan dalam tabel diatasadalah senyawa yang berperan sebagai antioksidan di dalam tubuh yangmampu mengikat radikal bebas yaitu vitamin A, vitamin B, vitamin C danvitamin E. Kandungan lain dari Moringa oleiferaadalah beberapamineral, asam amino esensial, asam glutamat, asam aspartat, alanin, leusin,serta triftopan yang dibutuhkan oleh tubuh (Tilong, 2011).

34Winarti (2010) menambahkan daun Moringa oleiferajugamengandung makro elemen seperti potasium, kalsium, magnesium,sodium, dan fosfor, serta mikro seperti mangan, seng, dan besi. Salah satuyang sangat berfungsi dalam peran antioksidan pada tanaman kelor adalahvitamin A, B, C dan vitamin E. Beberapa penjelasan tentang vitamindiuraikan sebagai berikut:1.Vitamin A (β-karoten)Vitamin A merupakan salah satu dari 600 komponenkarotenoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang kuat untukoksigen reaktif sehingga mampu mengikat radikal bebas (Winarsi,2007). Karetonoid merupakan senyawa C40 dan tetraterpenoid yangterdapat dalam plastida jaringan tanaman. β-karoten juga mampumennagkap oksigen reaktif dan radikal peroksil yang kemudianmenetralkannya.β-karoten berperan penting dalam pencegahan penyakitdegeneratif yaitu dengan cara mempertahankan fungsinya sebagaiantioksidan (Kumalaningsih, 2007). Senyawa β-karoten mampuberperan untuk menghentikan reaksi berantai dari radikal bebas. βkaroten dapat menangkap O2 karena adanya 9 ikatan rangkap padarantai karbonnya. Energi untuk reaksi ini dibebaskan dalam bentukpanas sedemikian rupa sehingga sistem regenerasi tidak diperlukan(Winarti, 2010).2.Vitamin C (Asam Askorbat)

35Kumalaningsih (2007) mengemukakan bahwa vitamin Cmerupakan antioksidan yang berperanan penting dalam membantumenjaga kesehatan sel. Sumber vitamin C yang penting beradadalam makanan terutama berasal dari buah-buahan dan sayursayuran, sedangkan bahan makanan yang berasal dari hewani padaumumnya tidak merupakan sumber yang kaya akan vitamin C.Peran vitamin C sebagai senyawa antioksidan non-enzimatis adalahdengan cara mendonorkan elektron (oksidasi) terhadap radikaloksigen seperti superoksida, radikal hidroksil, radikal peroksil,radikal sulfur,danradikal nitrogenoksigenyang dapatmenghambat proses metabolisme tubuh (Astuti, 2009).Muhammad, (2009) mengemukakan bahwa, vitamin Cdisebut sebagai antioksidan, karena dengan elektron yangdidonorkan itu dapat mencegah terbentuknya senyawa lain dariproses oksidasi dengan melepaskan satu rantai karbon. Namun,setelah memberikan elektron pada radikal bebas, vitamin C akanteroksidasi menjadi semidehydroascorbut acid atau radikalascorbic yang relatif stabil.Muchtadi (2008) menambahkan bahwa, sifat tersebut di atasyang menjadikan sebagai antioksidan atau dengan kata lain bahwaascorbic acid dapat bereaksi dengan radikal bebas, reaksi tersebutdapat mereduksi radikal bebas yang reaktif menjadi tidak reaktif.3.Vitamin E (Tocoferol)

36Tocoferol, terutama α-tocoferol, telah diketahui sebagaiantioksidan yang mampu mempertahankan integritas membraneritrosit dan lipoprotein plasma. Sebagai antioksidan, vitamin Eberfungsi sebagai donor ion hidrogen yang mampu mengubahradikal peroksil (hasil peroksidasi lipid) menjadi radikal tocoferolyang kurang reaktif, sehingga tidak merusak rantai asam lemak(Winarti, 2010).Muhammad (2009) menambahkan bahwa, radikal vitamin Edapat mengalami regenerasi oleh adanya glutation atau asamaskorbat dengan cara tocoferol memindahkan atom hidrogen yangmemiliki elektron tunggal sehingga dapat menyingkirkan radikalbebas peroksil lebih cepat dibandingkan dengan reaksi radikalprotein membran, sehingga radikal tocoferol yang tidak reaktifakan dieliminasi oleh asam askorbat.Manfaat paling besar dari vitamin E adalah kemampuannyasebagai antioksidan. Vitamin E berkolaborasi dengan oksigenmenghancurkan radikal bebas. Secara umum, manfaat dari vitaminE antara lain mencegah penyakit hati, mengurangi kelelahan,membantu memperlambat penuaan karena oksidasi, mensuplaioksigen ke darah, menguatkan dinding pembuluh kapiler darah danjuga membantu mencegah sterilitas (Iswara, 2009). Vitamin iniberfungsi sebagai pelindung terhadap peroksidasi lemak di dalammembran (Muchtadi, 2008).

372.3.4 AntioksidanAntioksidan merupakan senyawa pemberi elektron (electron donor)atau reduktan. Senyawa ini memiliki berat molekul kecil, tetapi mampumenginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi, dengan cara mencegahterbentuknya radikal bebas. Antioksidan juga merupakan senyawa yangdapat menghambat reaksi oksidasi dengan cara mengikat radikal bebas danmolekul yang sangat reaktif, akibatnya, kerusakan sel akan terhambat(Hariyatmi, 2004). Kumalaningsih (2007) menambahkan bahwa, suatusenyawa dikatakan memilik

Logam essensial adalah logam yang sangat membantu dalam proses fisiologis makhluk hidup dengan jalan membantu kerja enzim atau pembentukan organ dari makhluk yang bersangkutan. Sedangkan logam non essensial adalah logam yang peranannya dalam tubuh makhluk hidup belum diketahui, kandunganny