Transcription

PEMBELAJARAN INTERAKTIF MELALUI BERNYANYI DENGANMELODI SEDERHANA PADA PENYANDANG AUTISM DI SEKOLAHAUTIS BINA ANGGITA YOGYAKARTAAmallia Estri Rachmadani1, Dr. Fortunata Tyasrinestu2, Ayu Tresna Yunita.31Alumnus Jurusan Musik FSP ISI YogyakartaEmail : [email protected] Jurusan Musik FSP ISI Yogyakarta3Dosen Jurusan Musik FSP ISI YogyakartaAbstrakPembelajaran Interaktif adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yangdigunakan guru pada saat menyajikan bahan pelajaran dimana guru pemeran utamadalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara gurudengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalammenunjang tercapainya tujuan belajar. Dalam penelitian ini penulis menggunakanmetode penelitian kualitatif. Pembelajaran musik untuk anak autism dapatdilakukan dalam beberapa ragam kegiatan, di antaranya bernyanyi. Melaluipembelajaran interaktif melalui bernyanyi, seluruh aspek jiwa dan raga dari anakautism dapat terolah dengan baik. Mulai dari aspek daya fokus, anak autism akansemakin mampu untuk berinteraksi dan mengkonsentrasikan pandangan mata sertapikirannya terhadap lawan bicara dan kegiatan yang ia lakukan.Kata Kunci: autism, musik, pembelajaran interaktif, interaksi.PENDAHULUANKemampuan komunikasi penyandang autism sangat kurang jikadibandingkan dengan anak normal. Karena pragmatis yang rendah dan ketikamereka masuk pada tahap awal bicara, mereka hampir selalu memberikan “label”untuk hal apapun yang mereka lihat atau inginkan dan mengulang apa yang merekadengar dari orang lain, sering kali tanpa arti, dan bukan melibatkan diri dalamberdialog dengan orang lain. Penyebab utama anak penyandang autism adalahkesulitan berkomunikasi, karena pola komunikasi mereka tidak berada tepat padatempatnya, sehingga diperlukan fokus untuk mengembangkan kemampuanpragmatis untuk membuat kemampuan berbicara dapat berkembang dengan normal(Christie, 2009: 11). Pembelajaran musik bagi anak autis tidak bertujuan sematamata untuk membentuk anak menjadi pemain musik yang handal (Djohan, 2009:235). Tapi lebih dari itu, pembelajaran musik bagi anak autism berfungsi sebagaiterapi bagi perbaikan emosi anak autis yang tidak peka terhadap kehidupan sekitarmereka. Musik menjadi salah satu mata pelajaran dalam pendidikan di sekolahumum.UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta1

Pembelajaran Interaktif adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yangdigunakan guru pada saat menyajikan bahan pelajaran dimana guru pemeran utamadalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara gurudengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalammenunjang tercapainya tujuan belajar (Komara, 2014: 42). Proses pembelajaran diSekolah Autis Bina Anggita juga tidak hanya di dalam kelas, melainkan juga di luarkelas. Anak di ajak untuk berkegiatan di luar, hal tersebut dimaksudkan untukmengajak murid berinteraksi dengan alam, dan juga memberikan informasi kepadamasyarakat tentang keberadaan anak autis.Proses pembelajaran di sekolah autis tersebut menggunakan ratio satu Guru,satu anak. Untuk murid yang masih kecil akan di perkuat komponennya,Kurikulumnya tidak ada yang pasti, melainkan di sesuaikan dengan kemampuandan kebutuhan anak, sehingga sejak awal menggunakan metode pembelajaranindividual. Dari beberapa point di atas, kesimpulannya adalah bahwa pembelajaraninteraktif dalam proses belajar mengajar seorang guru harus mengajak siswa untukmendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi kesempatan untukmenulis, dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan sehingga terjadi proses belajarmengajar yang interaktif. Mengapa dipilih pembelajaran Interaktif karena Penulisingin mengembangkan komunikasi anak Autis yang terbatas menggunakan modelinteraksi melalui Musik dengan cara bernyanyi, berdasarkan studi yang diSutherland House School sebelum membantu anak dapat berkomunikasi denganbaik yaitu dengan cara memikirkan tentang bahasa dan komunikasi terlebih dahuludan bagaimana mereka bisa berkembang, karena anak-anak semacam inimengalami kesulitan dalam menggunakan dan memahami segala metodekomunikasi termasuk ekspresi wajah, isyarat tubuh, dan kemampuan nonverballain, termasuk kata-kata.METODEPenelitian ini dilaksanakan di Sekolah Khusus Autis Bina AnggitaYogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2017.Pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Objek Material dalampenelitian ini yaitu Anak-Anak Autis, dan Objek Formalnya yaitu melaluipembelajarannya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara danobservasi. Teknik analisis data dengan proses reduksi data, penyajian data,mengambil kesimpulan. Tahap pelaksanaan penelitian dimulai dengan analisis,observasi, wawancara, dokumentasi.HASIL DAN PEMBAHASANA. HASIL1. Keadaan UmumSejarah Sekolah Autis Bina Anggita berdiri pada tahun 1999, awal sekolahini berdiri sebagai Wadah Bimbingan Terapi untuk Anak Autis di Yogyakarta,karena alasan kebutuhan, banyak peminat, dan ketersediaan Guru yang akanUPT Perpustakaan ISI Yogyakarta2

mengajar lalu dibentuk sebuah Sekolah Sekolah Autis Bina Anggita Yogyakartayang saat ini memiliki kurang lebih 40 Siswa yang aktif, proses belajarmengajar terbagi menjadi beberapa sesi, setiap hari Senin-Sabtu pukul 07.15hingga pukul 11.15WIB, pukul 11.15 WIB-12.00 Ishoma, 12.00-14.00 KBM,14.00-16.00 KBM tergantung pilihan dari orang tua dan ketersediaan kursi.Untuk mengetahui jenjang pendidikan berdasarkan Usia, kemampuan danKeterampilan. Sekolah Bina Anggita memiliki jumlah guru 23, dan 2 orangkaryawan yang bekerja berdasarkan pembagian waktu.2. Keadaan KhususSekolah Bina Anggita memiliki siswa-siswa penyandang autism dari yangringan (baik dalam oral dan komunikasi) hingga yang berat (kurang dalam oral, dansulit untuk berkomunikasi). Dalam penelitian ini, peneliti memiliki 3 klien yaituklien A, B, C. Klien A termasuk dalam kategori anak penyandang autisme ringan.Keterangan yang diperoleh dari orangtuanya melalui bapak asramanya jugamenyebutkan demikian. Kemampuan akademiknya di sekolah juga tergolongcukup bagus. Gangguan yang ia alami juga tidak terlalu parah. Menurut kepalasekolah dan guru pendamping, klien A di sekolah termasuk dalam golongan anakyang cukup pandai, dan memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik, hanyasaja emosinya tidak stabil. Ia seringkali bersikap agresif kepada guru-gurudisekolah atau guru pendamping, seperti tiba-tiba Ia merangkul atau memeluk gurutersebut, dan jika ingin meminjam barang milik orang lain ia akan terus memaksa,atau mengambil.Pada saat mulai pembelajaran interaktif melalui bernyanyi ini klien Anampak seperti serius dan tertarik memperhatikan instruksi yang penelitiinstruksikan, tetapi ada gejala yang aneh ketika klien A sudah menyanyikan bagianyang ia nyanyikan, dan kemudian bergiliran oleh klien B dan C, klien A menutupkedua telinganya dengan tangannya sehingga fokusnya terbagi dan ia kesulitanuntuk menyanyikan lirik setelahnya. Hal ini terjadi karena klien A memangmemiliki kemampuan yang baik dalam mengimitasi/menirukan hal apapun yang iadengar, sehingga ia menutup telinganya ketika klien B, dan C menyanyikan partnyasupaya ia tidak menghafal dan menirukan part yang dinyanyikan oleh B, dan C.Gejala ini muncul setiap kali pembelajaran dilakukan, sehingga peneliti membuatlangkah untuk meminimalisir agar gejala ini dapat berkurang, dan ini berhasilsedikit demi sedikit dilakukan oleh klien A.Klien A mampu mendengarkan klien B dan klien C bernyanyi, meskipunterkadang ia masih sering terlihat memegang telinganya tetapi tidak sesering padasaat pertama kali pembelajaran berlangsung. Hal yang muncul lainnya ketikapemberian materi pembelajaran interaktif melalui bernyanyi ini pada klien A adalahkemampuan vokal pada klien A cenderung berbeda dengan klien B dan C, klien Amemiliki suara yang cenderung lirih dan sangat lembut, sehingga ketika prosespembelajaran berlangsung vokal klien A tertutup dan tidak terlalu terdengar jikabernyanyi bersama-sama dengan klien B dan C, tetapi nada-nada yang dinyanyikanselalu tepat. Pihak sekolah juga mengatakan bahwa klien A ini memang senangUPT Perpustakaan ISI Yogyakarta3

sekali bersenandung lafal-lafal Al-Quran, bahkan sering diikutkan lomba MurottalAl-Quran, sehingga cengkok, dan suaranya memang terdengar lebih lembut danketika bernyanyi ia akan cenderung mudah mengikuti melodi-melodi lagu yang iadengar.Klien B, memiliki kemampuan akademik di sekolah yang tergolong sangatbagus jika dibandingkan dengan anak-anak autism lain yang pada usianya memilikioral yang kurang baik. Gangguan yang ia alami juga tidak terlalu parah. Menurutkepala sekolah dan guru pendamping, klien B di sekolah termasuk dalam golongananak yang cukup pandai, dan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baiksehingga guru-guru di sekolah tidak terlalu kesulitan untuk memberikan treatmentterhadap klien B. Klien B termasuk siswa yang sangat aktif, emosinya yang tidakdapat diprediksi seperti ia akan melompat-lompat, atau berlari-lari jika ia sedangsenang, ia tidak dapat mengontrol rasa kegembiraannya, akan tetapi klien Btermasuk anak yang memiliki kepeduliaan yang sangat tinggi jika dibandingkandengan anak-anak autism lain pada usianya, ia memiliki respon kepekaan yangsangat baik dan sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar ataupun orangbaru yang baru saja ia kenal. Preferensi klien B terhadap musik saat observasi awalberlangsung, terlihat sangat antusias. Dalam sesi kegiatan musik (drum band) yangdi programkan oleh sekolah setiap hari kamis, ia menunjukkan minat danketertarikan yang besar terhadap musik. Bahkan ia sering sekali membuat lagumelalui software program musik. Pendekatan pertama yang dilakukan oleh penelitiadalah mencoba untuk berkomunikasi dua arah pada klien B, saat ia sedang bermainlaptop, lalu mencoba untuk mengamati respons klien B terhadap apa yangditanyakan oleh peneliti.Pada perlakuan selanjutnya, pada waktu peneliti mengajarkan pembelajaraninteraktif melalui musik dengan bernyanyi menggunakan lirik dan melodi yang dibuat oleh peneliti, respons yang ditunjukkan klien B baik-baik saja, tidak ada gejalayang aneh, justru klien B lebih bersemangat dibandingkan klien A dan C. Lalupeneliti masuk pada materi pembelajaran interaktif yang di buat oleh peneliti, danklien B terlihat lebih antusias untuk mengikuti sesi pembelajaran. Capaian responssecara emosi yang ia tunjukkan ketika berkomunikasi, juga jauh lebih baik daripadarespons pada perlakuan sebelumnya. Klien B lebih mampu mengolah emosinyaketika ia berkomunikasi oleh peneliti, dan mengikuti instruksi yang penelitilakukan. Tugas berupa membaca satu persatu lirik yang ditulis oleh peneliti dipapan tulis, kemudian instruksi untuk mendengarkan melodi lagu yang akandinyanyikan juga berjalan sangat baik, justru sering sekali klien B membantu klienA dan C jika mereka salah dalam menyanyikan lirik lagu. Pada saat mulaipembelajaran interaktif melalui bernyanyi ini klien B seperti sangat tertarikmemperhatikan instruksi yang peneliti instruksikan, sama sekali tidak ada gejalayang aneh ketika klien B sudah menyanyikan bagian yang ia nyanyikan, semuanada-nadanya tepat, liriknya juga tidak ada yang salah, justru ia membangunsuasana yang baik dengan klien A dan C. Ia memberikan contoh yang penelitiinstruksikan kepada klien A dan C supaya dapat bernyanyi dengan rileks danmenggerakan seluruh anggota tubuhnya, agar tidak kaku dan tetap fokus bernyanyisesuai partnya. Interaksi bernyanyi yang peneliti harapkan muncul pada proses iniUPT Perpustakaan ISI Yogyakarta4

tercapai, klien B dapat menginterpretasikan lagu yang ia nyanyikan dengan baik,komunikasi dan interaksi antara klien B dengan klien lainnya juga terjalin sangatbaik.Klien C termasuk siswa yang cenderung pasif. Beberapa guru menyebutnyasebagai anak yang sangat tenang namun pada umumnya yang terjadi pada anakautism lainynya yang memiliki emosi yang tidak dapat diprediksi, emosi pada klienC justru selalu bisa diprediksi, yaitu ketika ia mulai melihat dan mendengar hal-halyang menurut ia itu tidak pada aturannya ia akan cenderung memberontak. Dariguru pembimbing dan buku laporan sekolah diperoleh informasi bahwakemampuan bahasa Klien C telah mengalami peningkatan yang cukup baik setelahmendapatkan terapi terpadu dari sekolah. Ia sudah mampu berbicara dengan lancar(artikulasi bicara cukup baik) dan mampu berkomunikasi dengan orangdisekitarnya. Menurut, guru-guru di sekolah C memang memiliki daya ingat yangsangat baik khususnya dalam mengingat kejadian-kejadian flashback yang terjadidi Indonesia, atau hal-hal sekitar ia, seperti mengingat kejadian gempa Jogja,tanggal, dan waktunya ia masih ingat, dan ia juga menceritakan ia sedang apa saatgempa terjadi, lalu Tsunami di Aceh, dll. Pada awalnya respon yang ditunjukkan,mau menjawab dengan malu-malu, tetapi setelah diberikan arahan oleh gurupendamping, ia kemudian mau memperhatikan peneliti bicara.Klien C memiliki perilaku yang apapun yang ia kerjakan atau orang lainkerjakan harus sempurna, seperti contoh saat sesi pembelajaran musik, penelitisalah dalam hal menulis nama di papan tulis, ia langsung mendekati peneliti danmenghapus nama yang salah dan menggantinya saat itu juga, “itu kan salah” dengannada seolah membentak, emosi dalam diri klien C memang terlihat ketika hal-halyang tidak sesuai menurut dirinya sendiri ia akan bereaksi berlebihan dan seolahmengungkapkan sikap kecewa terhadap sesuatu hal yang menurut ia itu salah,meskipun dalam hal yang wajar jika menurut anak normal yang seusia dirinya.Reaksi lainnya juga muncul ketika pembelajaran musik berlangsung klien C harusmengambil salah satu keyboard di ruang musik untuk dibawa ke Aula, hal ini untukmengurangi rasa nervous dan malu-malu klien C saat ia bernyanyi, karena ia sudahterbiasa dirumah bernyanyi sambil bermain keyboard sehingga hal ini akan terusdilakukan untuk membuat klien C menjadi percaya diri. Pada saat pembelajaraninteraktif klien C tampak sangat menikmati dan terlihat seperti ingin mengikutipembelajaran secara terus menerus, hal ini terlihat ketika ia mulai senang bernyanyisendiri tanpa alat bantu keyboard meskipun hanya dengan bergumam, keteranganini peneliti amati sendiri dan ada beberapa guru kelas yang memberi tahu kepadapeneliti. Respon lain yang ditujukan oleh klien C adalah ia mampu menyanyikansatu persatu lirik dengan tepat, setelah beberapa kali sulit untuk berinteraksi denganklien A dan B ketika bernyanyi bersama.UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta5

B. PEMBAHASANMateri yang peneliti buat untuk pembelajaran musik ini, menggunakan melodisederhana, mengapa hanya menggunakan melodi-melodi sederhana, karena untukmencapai 3 hingga 4 nada saja bagi anak-anak autism sangat sulit sehingga penelitimemutuskan untuk menggunakan melodi yang sederhana, dengan menggunakansyair yang berisi kehidupan sehari-hari anak-anak autism tersebut, terutama disekolah, dan juga pemilihan syair untuk membuat anak anak merasa senangmembaca dan menyanyikan lirik lagu tersebut. Contoh pelaksanaan pembelajaranmusik dapat menggunakan alat musik tamborin dan irama tepukan dengan katakata sederhana, seperti: “Siapa namamu?” Dengan cara ini, si anak akan belajarsekaligus irama dan ketukan sebagai kata benda dan kata kerja dengan melodi yangsederhana.Halo![Notasi 1. Melodi Aktivitas Pembelajaran]Sebelum melakukan aktivitas bernyanyi, peneliti melakukan vocalizing dansolmisasi terlebih dahulu untuk melatih pernafasan, huruf-huruf vokal, seperti (a, i,u, e, o), melatih ketepatan nada, melenturkan rahang dan rongga mulut agar anakanak dapat bernyanyi dengan rileks. Respons awal yang ditunjukkan oleh masingmasing klien memang berbeda-beda, tetapi hasil capaian respon setelah pemberianperlakuan yang telah peneliti terima adalah sama, mereka bertiga (Klien A, B, danC) sama-sama memiliki ketertarikan terhadap musik sehingga mereka mampumencapai garis yang sama, meskipun dari awal mereka memiliki ketrampilan yangberbeda-beda.Pada materi yang pertama, merupakan materi awal untuk pengenalan antaraklien A, B, dan C supaya lebih mengenal satu sama lain nama-nama mereka, danUPT Perpustakaan ISI Yogyakarta6

mengajak mereka untuk saling berinteraksi satu sama lain seperti bergiliran untukmenyanyikan bagian-bagian mereka.[Notasi 2. Melodi Aktivitas Pembelajaran]Ayo Nyanyi Bersama[Notasi 3. Melodi Aktivitas Pembelajaran]Pada materi yang kedua, ketiga klien sudah semakin terbiasa dan penelititidak sulit untuk memberikan treatment, semua instruksi dapat dilakukan olehketiga klien tanpa hambatan, justru mereka lebih antusias untuk bernyanyi danmenginterpretasikan bagian yang mereka nyanyikan.Musik dapat membuat anak menjadi enjoy dan tenang. Dengan kata lain,musik berpengaruh terhadap respon emosional anak autism yang mereka wujudkandalam ucapan, senandung maupun gerak. Walau demikian, anak autism mempunyaikarakteristik yang berbeda. Dapat dikatakan pula bahwa setiap komponenpembelajaran musik bagi anak autism saling mempengaruhi secara positif yangmengakibatkan pembelajaran musik bagi anak autism dapat terlaksana dengan baik,sehingga musik memiliki pengaruh baik terhadap anak autism. Kendala dalamUPT Perpustakaan ISI Yogyakarta7

pembelajaran musik bagi anak autism dapat diakibatkan oleh faktor intern anak itusendiri (seperti kurangnya konsentrasi, intelegensi dan minimnya kemampuanverbal maupun motorik) ataupun terpengaruh faktor luar (seperti guru dan fasilitas).Adapun materi yang dibutuhkan oleh anak autism adalah materi yang sederhanadan sesuai dengan karakteristik anak autism. Berbagai kendala yang muncul dalampelaksanaan pembelajaran interaktif melalui bernyanyi dalam penelitian ini antaralain yaitu, kondisi anak penyandang autism sangat sulit diprediksi. Banyak sekalirencana pembelajaran yang harus diubah secara spontanitas, dikarenakan materiyang diberikan pada hari pelaksanaan ternyata tidak mampu dilakukan atau tidakmenarik perhatian subjek.KESIMPULAN DAN SARANBerdasarkan data yang diperoleh dari penelitian ini maka kesimpulan yangdiperoleh yaitu: Pembelajaran interaktif melalui bernyanyi yang menyajikan ragammedia pembelajaran variatif, ternyata mampu untuk meningkatkan kemampuankomunikasi anak penyandang autism., Kemampuan berinteraksi serta antusias anakpenyandang autism untuk belajar musik maupun materi non musik mengalamipeningkatan yang signifikan setelah mengikuti pembelajaran interaktif melaluibernyanyi., Bakat dan keterampilan bermain musik, dan bernyanyi (kepekaanauditorik, dan kemampuan motorik) anak penyandang autism mengalamipeningkatan setelah mendapatkan pembelajaran interaktif melalui bernyanyi.Saran dari hasil penelitian ini peneliti mengajukan saran-saran kepada setiappelaku pendidikan khususnya setiap guru luar biasa khusus Autis sebagai salah satukomponen pembelajaran musik untuk terus mengembangkan pembelajaran musiklain yang saling terkait dengan kreatif dan inovatif. Materi dan metode yangdipergunakan harus sederhana, sering diulang (drill) dan disesuaikan dengankarakteristik masing-masing anak autism. Adapun peneliti menyarankan supayaada terapis khusus atau ahli yang berkompetensi dalam bidang musik untukmembimbing anak-anak penyandang autism dalam proses pembelajaran. Selain itu,kelengkapan sarana dan prasarana dapat menunjang keberhasilan pembelajaranmusik bagi anak autism. Peneliti juga menyampaikan saran kepada penelitiselanjutnya untuk menjadikan penelitian ini sebagai dasar bagi pembuatan metodeyang tepat guna bagi anak autism untuk dapat belajar musik dan merasakanpengaruh musik dalam hidup mereka.DAFTAR REFERENSIA.M, Sardiman. 2009. Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.Brower, Francine. 2010. 100 Ide Membimbing Anak Autis. Jakarta: Erlangga.Christie Phil.(*et al.)Manipuspika, Yana Shanti. 2010. Langkah awal berinteraksidengan anak autis. Jakarta: Kompas Gramedia.UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta8

Don, Campbell. 2001. Efek Mozart Bagi Anak-Anak. Jakarta: Gramedia PustakaUtama.Djohan. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik., 2006. Terapi Musik Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress.Danuatmaja, Bonny. 2003. Terapi Anak Autis di Rumah. Jakarta: Puspa Swara.Dananjaya, Utomo. 2013. Media Pembelajaran Aktif Cetakan ke-III. Bandung:Nuansa Cendekia.Djamarah, Syaiful Bahri. 1998. Guru dan Anak didik Dalam Interaksi Edukatif.Jakarta: Rineka Cipta.Eren, Bilgehan, 2013. Procedia Social and Behavioral Sciences. Turkey: Use ofMusic in Special Education and Application Examples.Hamalik, Oemar. 2010. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan PendekatanSistem. Jakarta: Bumi Aksara.Hollingsworth, Pat. 2008. Pembelajaran Aktif. Jakarta: PT. Indeks.Jamalus. 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: ProgramRefresher C University of Huston.Komara, Endang. 2014. Belajar dan Pembelajaran Interaktif. Bandung: RefikaAditama.Lumbantobing, S.M. 1997. Anak dengan Mental Terbelakang. Jakarta: BalaiPenerbit FK UI.Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran,. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Montello, Louise. 2004. Kecerdasan Musik. Batam: Lucky Publisher.Normies, Adam. 1992. Kamus Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Ilmu.Pamoedji, G. 2007. Efek Sebuah Predikat Autis pada Keluarga, guru, danmasyarakat umum. Makalah seminar sehari: “Mengasuh dan Mendidikanak penyandang autis”.Rachmawati, Y. 2005. Musik Sebagai Pembentuk Budi Pekerti. Yogyakarta:Jalasutra.Rohman & Amri. 2013. Strategi dan Desain Pengembangan SistemPembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustakarya.Sani, Abdullah. 2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.Sabri, A. 2005. Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching. Jakarta: QuantumTeaching.Siswoyo, Agus. 2013. Bentuk Proses Interaksi Sosial dan Faktor TerjadinyaInteraksi Sosial. ksi-UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta9

sosial-menurutproses- .Diakses pada 28 September 2016.Smith, J. David. Sekolah Inklusif. Bandung: Nuansa Cendekia.Somantri, Sutjihati. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. RefikaAditama.UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta10

mengajar lalu dibentuk sebuah Sekolah Sekolah Autis Bina Anggita Yogyakarta yang saat ini memiliki kurang lebih 40 Siswa yang aktif, proses belajar mengajar terbagi menjadi beberapa sesi, setiap hari Senin-Sabtu pukul 07.15 hingga pukul 11.15WIB, pukul 11.15 WIB-12.00 Ishoma, 12.00-14.00 KBM,